oleh

Ketegangan Di Wilayah Kawasan Memuncak, Arab Saudi Siap Bertahan

DUBAI – Arab Saudi mengaku tidak ingin berperang. Namun mereka siap membela diri dan bertahan melawan Iran.

Menteri Negara bidang Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan hal ini setelah empat tanker minyak yang dua di antara milik Arab Saudi di Uni Emirat Arab disabotase pekan lalu.

“Kerajaan Arab Saudi tidak ingin perang di kawasan dan tidak menginginkan hal itu, tapi di saat yang sama jika ada pihak lain yang memilih perang, kerajaan yang melawan dengan segenap kekuatan dan semangat dan akan mempertahankan diri, warga dan kepentingannya,” kata al-Juberi, Ahad (19/5).

Kekhawatiran konflik bersenjata semakin meningkat sejak Gedung Putih mengirimkan kapal perang dan pesawat pengebom ke kawasan pada awal bulan lalu. Amerika Serikat juga memerintahkan penarikan pegawai non-esensial dari Irak.

Sementara itu, Menteri-menteri energi negara-negara OPEC dan sekutunya termasuk Arab Saudi dan Rusia bertemu di Arab Saudi pada Ahad ini. Mereka membicarakan pemotongan harga dan produksi minyak. 

Raja Salman dijadwalkan juga akan mengundang kepala-kepala negara Arab untuk datang ke Makkah pada 30 Mei. Mereka akan membahas perkembangan terbaru tentang keputusan pemangkasan minyak termasuk tentang serangan pipa.

Kerajaaan Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan pipa minyak. Mereka menuduh Teheran mempersenjatai pemberontak Houthi. Sejak 2015 lalu koalisi Arab Saudi berperang melawan pemberontak itu di Yaman. Iran membantah mempersenjatai dan melatih para pemberontak yang menguasai utara Yaman termasuk ibukota Sanaa.

“Kami ingin perdamaian dan stabilitas di kawasan, kami tidak akan berdiam diri dengan tangan terikat disaat Iran terus-menerus menyerang, Iran harus mengerti itu, bolanya ada dipengadilan Iran,” kata al-Jubeir.

News Feed