oleh

Mengulas Fitur Keamanan Telegram dan Signal Lebih Mendalam

Trendingpublik.com, – Belum lama ini WhatsApp mengenalkan kebijakan privasi baru yang dinilai kontroversial. Banyak pengguna WhatsApp yang memprotes kebijakan tersebut dan ramai-ramai mencari aplikasi messaging alternatif.

Saat ini ada dua aplikasi yang menjadi tujuan hijrah utama pengguna WhatsApp yaitu Telegram dan Signal Keduanya sama-sama mengandalkan privasi dan keamanan sebagai fitur.

Tapi, seberapa aman Telegram dan Signal dibandingkan dengan WhatsApp? Setelah sebelumnya mengulik jumlah data yang dikumpulkan lima aplikasi messaging populer, kali ini kita akan mengulas fitur keamanan Telegram dan Signal secara lebih mendalam.

Telegram

Mengutip The Next Web, Rabu (13/1/2021) salah satu fitur andalan Telegram adalah pengguna yang ingin menambahkan pengguna lain hanya perlu menggunakan username, tidak perlu memberikan nomor teleponnya.

Jika melihat kebijakan privasinya, Telegram mengumpulkan nomor telepon dan kontak pengguna saat mendaftar pertama kali. Selain itu, mereka juga bisa mengakses username dan foto profil pengguna, serta data perangkat dan alamat IP untuk moderasi konten.

Jika pengguna menggunakan two-factor authentication lewat email, Telegram juga akan merekam data tersebut. Tapi aplikasi buatan Pavel Durov ini mengatakan data tersebut tidak digunakan untuk menampilkan iklan ke pengguna.

Perlu diketahui bahwa Telegram adalah layanan messaging berbasis cloud. Artinya, pengguna bisa mengakses akun yang sama di banyak perangkat sekaligus dan semua percakapannya selalu tersinkronisasi, tidak seperti WhatsApp.

Meski Telegram menggunakan enkripsi client-to-server, tapi percakapan di dalamnya tidak dilindungi enkripsi end-to-end secara default. Artinya, secara teknis siapapun yang bisa mengakses server Telegram bisa membaca percakapan pengguna.

Moderator dan bot Telegram bisa mengakses server untuk mencegah spam dan penyalahgunaan di platform. Satu-satunya cara untuk memastikan tidak ada orang yang bisa membaca percakapan adalah dengan menggunakan fitur Secret Chat yang menggunakan enkripsi end-to-end.

Telegram juga memungkinkan bot untuk berinteraksi dengan pengguna, dan mode privasi akan diaktifkan secara default agar bot tidak bisa membaca percakapan. Tapi jika bot ditambahkan menjadi admin grup, mereka akan bisa membaca pesan pengguna, walau tidak diarahkan ke mereka.

Meski Telegram mengizinkan bot untuk memfasilitasi pembayaran, semua transaksi ditangani oleh penyedia layanan pihak ketiga dan perusahaan tidak menyimpan data keuangan pengguna.

Signal

Signal menjagokan kebijakan privasinya yang tidak mengumpulkan data pengguna dalam bentuk apa pun. Pengguna masih harus memberikan nomor teleponnya saat membuat akun baru, tapi mereka sedang mencari cara agar tidak perlu mengumpulkan nomor telepon pengguna.

Untuk menemukan kontak, Signal  mengirimkan nomor telepon yang telah dipotong dan diacak secara kriptografis. Nama kontak atau informasi lainnya tidak dikirim atau disimpan di server aplikasi.

Salah satu alasan Signal tidak mengumpulkan data sama sekali adalah karena mereka dikelola oleh organisasi nirlaba. Aplikasi ini tidak menampilkan iklan untuk pengguna, jadi tidak ada insentif bagi mereka untuk mengumpulkan informasi pengguna.

Signal juga merupakan aplikasi open source. Artinya semua kode untuk aplikasi bisa diakses secara publik, jadi sulit bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk menaruh backdoor secara sembunyi-sembunyi.

Aplikasi ini menawarkan enkripsi end-to-end secara default untuk semua percakapan. Bahkan stiker yang bisa dikirim lewat Signal pun dilindungi oleh enkripsi khusus.

Signal menggunakan enkripsi berdasarkan Signal Protocol yang mereka kembangkan sendiri. Protokol ini juga digunakan oleh perusahaan lain termasuk WhatsApp dan Skype.

Selain enkripsi yang mapan, Signal juga memiliki sederet fitur privasi seperti layar keamanan agar preview aplikasi tidak bisa dilihat oleh orang yang mengintip. Pengguna juga bisa menggunakan password atau biometrik lainnya untuk mengamankan akun.

News Feed