Trendingpublik.Com, Lifestyle – Skrining tumbuh kembang anak menjadi langkah penting bagi orang tua untuk memastikan anak berkembang optimal sesuai potensi dan keunikannya. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi dini kemungkinan keterlambatan perkembangan, gangguan perilaku, hingga masalah belajar yang kerap luput disadari sejak awal.
Dokter Spesialis Anak Konsultan dari Mayapada Hospital Bandung, dr. Eddy Fadlyana, Sp.A(K), M.Kes, menjelaskan bahwa skrining tumbuh kembang merupakan proses penilaian menyeluruh terhadap perkembangan anak.
“Skrining mencakup aspek motorik, bicara dan bahasa, kognitif, serta sosial-emosional. Semakin dini potensi keterlambatan dikenali, semakin cepat pula intervensi dapat dilakukan,” ujar dr. Eddy dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan, skrining sebaiknya dilakukan sejak usia dini dan secara berkala, termasuk pada anak yang tampak sehat.
Perkembangan Otak Anak Sangat Menentukan Masa Depan
Hal senada disampaikan Dokter Spesialis Anak Konsultan lainnya, Dr.dr. Rodman Tarigan Girsang, Sp.A(K). Menurutnya, usia dini merupakan fase emas perkembangan otak yang sangat memengaruhi kemampuan belajar, perilaku, dan interaksi sosial anak.
“Tanpa skrining, gangguan perkembangan sering baru disadari saat anak masuk usia sekolah. Dampaknya bisa terlihat pada kesiapan belajar, kemampuan sosial, hingga kepercayaan diri,” kata dr. Rodman.
Ia menilai, banyak anak sebenarnya memiliki potensi besar, namun tidak berkembang maksimal karena keterlambatan deteksi.
Gangguan Belajar Sering Disalahpahami
Selain skrining umum, orang tua juga perlu waspada terhadap gangguan belajar anak. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neurologi, dr. Burhan, Sp.A, Subsp.Neuro(K), mengungkapkan bahwa sekitar 5–15 persen anak usia sekolah mengalami gangguan belajar.
Gangguan tersebut meliputi kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia).
“Kondisi ini sering dianggap sebagai kurang disiplin atau malas belajar. Akibatnya, anak tidak mendapatkan bantuan yang sesuai,” ujar dr. Burhan.
Ia menegaskan, gangguan belajar tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan anak, melainkan cara kerja otak dalam memproses informasi.
“Dengan pendekatan belajar yang tepat sesuai fungsi neurobehavior, anak tetap bisa berkembang dan berprestasi,” tambahnya.
Peran Deteksi Dini dan Intervensi Tepat
Tanpa penanganan yang tepat, gangguan belajar dapat berdampak pada prestasi akademik, kondisi emosional, serta rasa percaya diri anak. Karena itu, deteksi dini dan intervensi menjadi kunci.
Skrining tumbuh kembang dinilai bukan bentuk kekhawatiran berlebihan, melainkan wujud perhatian orang tua terhadap masa depan anak. Intervensi sejak dini membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan mandiri.
Layanan Terintegrasi untuk Tumbuh Kembang Anak
Kebutuhan akan layanan tumbuh kembang yang komprehensif kini semakin meningkat. Mayapada Hospital Bandung menghadirkan Klinik Tumbuh Kembang Anak dan Klinik Neurobehavior sebagai solusi terintegrasi bagi orang tua.
Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, dr. Irwan Susanto Hermawan, MM, mengatakan layanan ini dirancang sebagai one-stop solution.
“Layanan ini menjawab berbagai tantangan tumbuh kembang anak, baik fisik, perilaku, emosi, maupun sosial. Kami mengedepankan pendekatan multidisiplin dan patient-centered care,” ujarnya.
Klinik ini terintegrasi dengan Pediatric Center dan layanan lain seperti neurologi, kardiologi, gastrologi, hingga ortopedi. Layanan yang tersedia meliputi terapi okupasi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, fisioterapi anak, psikotes, tes minat dan bakat, tes kesiapan sekolah, serta konseling keluarga.
Berbagai informasi layanan dapat diakses melalui website dan aplikasi MyCare. Aplikasi ini juga menyediakan fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, langkah harian, kalori terbakar, dan indeks massa tubuh. (rdks-tp)












