Harga Emas Melemah, Harga Emas Dunia Tertekan Sepinya Perdagangan Global

Grafik harga emas dunia turun akibat sepinya perdagangan global
Harga Emas Dunia Melemah
Advertisements

Trendingpublik.Com, Ekonomi – Harga emas kembali bergerak turun pada awal pekan perdagangan global. Pelemahan harga emas dunia terjadi di tengah tipisnya aktivitas transaksi karena dua pasar utama, Amerika Serikat dan China, sama-sama libur nasional. Kondisi ini membuat pergerakan pasar logam mulia kehilangan momentum setelah reli kuat pada sesi sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (16/2/2026), harga emas spot tercatat turun 1,1 persen menjadi US$ 4.988,04 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April juga ikut terkoreksi 0,8 persen ke posisi US$ 5.006,60 per ons.

Penurunan ini terjadi setelah investor melakukan aksi ambil untung menyusul lonjakan harga hingga 2,5 persen pada perdagangan sebelumnya.

Harga Emas Dunia Turun di Tengah Libur Pasar Global

Sepinya perdagangan menjadi faktor utama yang menekan harga emas dunia. Pasar Amerika Serikat ditutup dalam rangka peringatan Hari Presiden, sedangkan pasar China masih libur Tahun Baru Imlek.

Ketika dua pusat ekonomi terbesar dunia tidak aktif, likuiditas pasar otomatis menurun. Volume transaksi yang tipis membuat pergerakan harga lebih rentan terhadap aksi jual jangka pendek.

Situasi ini ibarat jalan raya tanpa kendaraan-arah pergerakan tetap ada, tetapi dorongannya menjadi jauh lebih lambat.

Aksi Ambil Untung Jadi Pemicu Koreksi Harga Emas

Analis pasar dari KCM Trade, Tim Waterer, menjelaskan bahwa pelemahan harga emas merupakan reaksi wajar setelah kenaikan tajam sebelumnya.

“Emas memangkas sebagian kenaikan pascarilis CPI karena kondisi perdagangan yang lebih sepi serta tidak adanya katalis positif baru. Selain itu, aksi ambil untung juga membebani harga,” ujarnya dikutip dari Reuters.

Menurutnya, investor cenderung mengunci keuntungan ketika pasar kehilangan sentimen baru.

Pergerakan Logam Mulia Lain Ikut Melemah

Tidak hanya emas, sejumlah logam mulia lain juga mengalami tekanan harga.

  • Harga perak spot turun tajam 3,2 persen menjadi US$ 74,50 per ons setelah sebelumnya melonjak sekitar 3 persen.
  • Platinum melemah 0,4 persen ke level US$ 2.054,78 per ons.
  • Paladium terkoreksi 0,2 persen menjadi US$ 1.682,44 per ons.

Penurunan serentak ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia sedang berada dalam fase konsolidasi setelah reli yang cukup agresif.

Data Inflasi AS Jadi Latar Belakang Pergerakan Harga

Pergerakan harga emas dunia tidak bisa dilepaskan dari data inflasi terbaru Amerika Serikat.

Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,2 persen pada Januari. Angka ini lebih rendah dibanding kenaikan 0,3 persen pada Desember serta di bawah perkiraan ekonom.

Data tersebut memberi sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda, meski belum sepenuhnya stabil.

Bagi pasar emas, inflasi adalah bahan bakar utama. Ketika inflasi melambat, ekspektasi kebijakan moneter menjadi faktor penentu berikutnya.

Harapan Penurunan Suku Bunga Masih Menopang Harga Emas

Presiden Federal Reserve Bank Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan peluang penurunan suku bunga masih terbuka meskipun inflasi sektor jasa tetap tinggi.

Pernyataan ini memberi sinyal bahwa bank sentral belum sepenuhnya menutup pintu pelonggaran kebijakan moneter.

Bagi investor emas, kabar tersebut menjadi angin segar. Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.

Ekspektasi Pasar terhadap Kebijakan The Fed

Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada 18 Maret 2026.

Namun, data dari LSEG menunjukkan pasar masih memperhitungkan pemangkasan suku bunga hingga 75 basis poin sepanjang tahun ini.

Penurunan pertama bahkan diproyeksikan terjadi pada Juli.

Ekspektasi inilah yang membuat harga emas belum jatuh lebih dalam meski sedang terkoreksi. (rdks-tp)